forestlilliput

blog sederhana dari kota hujan

Flora Fauna Langka Indonesia January 11, 2011

Filed under: konservasi — forlilliput @ 1:33 am

Keanekaragaman hayati Indonesia tergolong paling tinggi kedua di dunia setelah Brazil. Menurut Lee, R.J. et al. (2001) hampir 10% dari hutan dunia dan hampir 40% dari hutan Asia terdapat di Indonesia. Indonesia memiliki 12% jenis mamalia dari total spesies yang ada di dunia, serta 16% jenis burung, 10% jenis reptilia, 7% jenis amfibi dan 25% jenis ikan. Khusus untuk tumbuhan berbunga telah ditemukan tidak kurang dari 30.000 jenis, belum termasuk tumbuhan paku-pakuan, lumut dan jamur (LIPI 2005). Keanekaragaman hayati memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup manusia karena jenis-jenis hayati tersebut diperlukan untuk penyedia oksigen, air, pangan, bahan bakar, sandang, papan, peralatan rumah tangga dan obat-obatan.

Sejumlah besar spesies menghilang dengan cepat, beberapa di antaranya telah musnah selamanya karena perburuan, pemangsaan dan persaingan (Primack et al. 1998). Mengetahui hal ini, negara-negara di dunia menyepakati dibentuknya IUCN Red List Categories, yaitu suatu daftar yang mencakup jenis-jenis flora dan fauna yang terancam keberadaannya dari seluruh dunia. Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 mengenai jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Tiga jenis fauna yang keberadaannya semakin berkurang di Indonesia antara lain:

1. Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)

Kakatua jambul kuning atau yelow-crested cockatoo (Gambar 1) adalah burung endemik Indonesia (merupakan jenis introduksi di Singapura dan Hongkong), dapat ditemukan di sepanjang Nusa Tenggara, Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, Nusa Penida dan di Kepulauan Masalembo (PHPA/Birdlife Internasional 1995). Menurut MacKinnon (2000) kakatua jambul kuning berukuran sekitar 33 cm, ribut, mencolok, berwarna putih, jambul kuning, pipi kuning, iris coklat gelap, paruh hitam, kaki abu-abu gelap.

Dahulu, jenis ini umum ditemukan di sepanjang daerah sebarannya, namun populasinya terus mengalami penurunan yang besar. Kemungkinan penyebab turunnya jumlah burung ini adalah kerusakan habitat dan penangkapan untuk diperdagangkan. Profauna Indonesia (2004) menyebutkan bahwa kakatua jambul kuning termasuk dalam jenis satwaliar yang sering diperdagangkan di Pasar Burung di Jawa. Burung kakatua jambul kuning tercantum sebagai jenis satwa dilindungi dalam PP No. 7 tahun 1999 dan memiliki status kritis (Critically endangered) dalam IUCN 2010.

Gambar 1  Kakatua jambul kuning

Upaya perlindungan terhadap satwa ini harus dilakukan bersama-sama oleh banyak pihak. Mula-mula diperlukan kegiatan survey dan penelitian untuk menentukan wilayah utama tempat keberadaan kakatua jambul kuning yang sangat perlu untuk dikonservasi. Kemudian diperlukan monitoring terhadap keadaan populasi burung kakatua jambul kuning serta studi mengenai persebaran sarang di areal konservasi tersebut. Dengan mengetahui hal-hal tersebut upaya pembinaan habitat dapat dilakukan dengan baik.

Pelindungan terhadap areal konservasi dimana terdapat kakatua jambul kuning harus ditingkatkan bukan hanya dengan menambah jumlah polisi hutan melainkan juga dengan meningkatkan perlindungan hukum terhadap areal tersebut. Karena dengan menjaga habitat maka kebutuhan satwa terhadap makanan, minum dan tempat bersarang akan terpenuhi. Selain hal-hal tersebut diatas, diperlukan pula kontrol yang ketat terhadap perdagangan satwa dan peningkatan kesadaran masyarakat lokal untuk bersama-sama menjaga keberadaan burung ini.

2. Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis)

Anoa adalah satwa endemik Sulawesi dan merupakan fauna identitas Provinsi Sulawesi Tenggara (Widyastuti 1993). Sosok anoa (Gambar 2) mirip dengan kerbau, terutama bentuk badan dan kepalanya tetapi ukurannya lebih kecil. Menurut Lee, R.J. et al. (2001), tubuh anoa berwarna coklat kehitaman, terdapat bercak-bercak putih dan kuning di sepanjang kaki depan, panjang tubuh 160-170 cm dengan tinggi bahu kira-kira 1 m, tanduk berbentuk kerucut dan berekor panjang.

Gambar 2  Anoa dataran rendah

Anoa merupakan salah satu jenis mamalia yang dilindungi secara resmi oleh pemerintah melalui PP No. 7 tahun 1999. Satwa ini juga tercantum dalam IUCN Red List Categories 2008 dengan status genting (endangered). Perburuan merupakan ancaman  utama bagi kelangsungan hidup anoa. Pemburu-pemburu anoa umumnya menggunakan jerat atau memburunya dengan anjing dan tombak. Faktor lain yang mengancam populasi anoa ialah kerusakan hutan yang menyebabkan terjadinya fragmentasi habitat dan erosi genetik yang disebabkan perkawinan antar kerabat dekat atau inbreeding (Mustari 1996).

Upaya perlindungan terhadap tempat ditemukannya populasi anoa sangat dibutuhkan, baik secara teknis dengan meningkatkan keamanan kawasan maupun secara hukum dengan menetapkan areal tersebut menjadi kawasan konservasi. Pembuatan koridor satwa diperlukan untuk mengatasi masalah fragmentasi habitat dan erosi genetik. Pelestarian terhadap anoa juga dapat dilakukan dengan membatasi pemanfaatan atau pengambilan dari alam sesuai dengan daya reproduksinya. Diperlukan pendekatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal untuk menghentikan perburuan anoa dan bersama-sama melestarikan keberadaannya di alam.

3. Tangkasi (Tarsius spectrum)

Tangkasi adalah satwa khas yang merupakan maskot Provinsi Sulawesi Utara (Widyastuti 1993). Ukuran tubuh tangkasi (Gambar 3) sangat kecil, berat badannya sekitar 110-120 gram dengan panjang tubuh sekitar 115-120 mm dan panjang ekor antara 135-275 mm. Telinga dan matanya besar, kepala bulat dan berleher pendek, umumnya dapat menoleh sampai 180o. Habitat alami primata ini adalah hutan primer, hutan sekunder dan kadang di kebun dekat hutan. Tangkasi termasuk satwa pemangsa serangga dan aktivitasnya berlangsung pada malam hari. Pada siang hari, tangkasi bersembunyi di tempat-tempat gelap atau di lubang-lubang pohon.

Gambar 3  Tangkasi

Tangkasi termasuk satwa dilindungi dalam PP No. 7 tahun 1999 dan memiliki status rentan (vulnerable) dalam IUCN Red List Categories 2008. Populasi satwa ini terbatas dan memiliki tingkat keterancaman yang tinggi terhadap kepunahan. Ancaman utama terhadap keberadan satwa ini adalah rusaknya habitat, karena itu diperlukan perlindungan yang ketat terhadap kawasan tempat adanya tangkasi. Perlindungan yang dimaksud berupa peningkatan pengamanan dan perlindungan kawasan yang didukung dengan undang-undang.

 

Beberapa jenis flora yang terancam keberadaannya di Indonesia dijelaskan berikut ini:

1. Patma Raksasa (Rafflesia arnoldii)

Bunga patma raksasa (Gambar 4) berukuran sangat besar, berwarna merah tua dengan bintil-bintil memucat. Bunga ini memliki lima kelopak sepanjang 24-26 cm dan lebar 28-33 cm dengan difragma 44-47 cm dan jumlah proseus 42 cuatan (Zuhud et al. 1998). Menurut LIPI (2001), Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan holoparasit yang tumbuh pada batang Tetrastigma leucostaphyllum dan tersebar di Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Semenanjung Malaysia dan Kalimantan Barat.

Gambar 4  Patma raksasa

Patma raksasa ini termasuk tumbuhan yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 tahun 1999 dan tercantum dalam IUCN Red List Categories dengan status genting (endangered).. Kerusakan habitat akibat penebangan hutan, pembukaan hutan untuk perkebunan maupun pemukiman sangat berpengaruh terhadap keberadaan dan kehidupan bunga ini. Kepunahan Rafflesia arnoldii juga dipercepat oleh perkembangbiakannya yang tidak semudah jenis tumbuhan lain. Upaya konservasi yang harus dilakukan  menurut Zuhud (1998) adalah perlindungan mutlak terhadap kawasan habitat Rafflesia, penelitian tentang siklus hidup Rafflesia arnoldii dan faktor penyebarannya, pengelolaan populasi Rafflesia arnoldii dan melaksanakan pencegahan dari aktivitas manusia yang merusak.

2. Rafflesia Merah Putih (Rafflesia hasseltii)

Rafflesia merah putih (Gambar 5) merupakan tumbuhan holoparasit pada Tetrastigma leucostaphyllum dan persebarannya sangat terbatas di Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Sanglap, Riau, Jambi dan Taman Nasional Kerinci Seblat (LIPI 2001). Saat mekar sempurna, bunga berwarna merah bata yang didominasi bercak putih ini memiliki diameter 35-50 cm, diameter discus 9 cm dan cuatan duri 18-21 buah (Zuhud 1998).

Gambar 5  Rafflesia merah putih

Rafflesia merah putih sudah dilindungi secara hukum berdasarkan PP No. 7 tahun 1999, dan secara in-situ tumbuhan ini telah terlindungi karena terdapat di kawasan taman nasional. Tumbuhan ini juga tercantum dalam IUCN Red List Categories dengan status genting (endangered). Ancaman terhadap kelestarian Rafflesia hasseltii dapat terjadi secara alami yaitu disebabkan oleh serangan rayap tanah, tupai dan semut merah. Pelestarian R. Hasseltii dipengaruhi keutuhan kondisi habitatnya, terutama vegetasi, tanah, iklim dan satwaliar serta pengaruh dari aktivitas manusia (Zuhud et al. 1999). Sebagai tumbuhan parasit, R. Hasseltii sangat tergantung pada inangnya sehingga pelestarian tumbuhan ini menyangkut pula pelestarian inangnya. Pelestarian bunga rafflesia di kawasan eks-situ harus dilakukan agar tumbuhan unik ini tetap dapat menjadi objek wisata tanpa mengganggu kelestarian di habitat alaminya.

3. Suweg Raksasa (Amorphophallus titanum)

Pemerintah daerah Bengkulu menetapkan suweg raksasa sebagai flora maskot provinsi (Widyastuti 1993). Tumbuhan yang tersebar di Sumatera Barat, Bengklulu, Jambi dan Lampung ini mempunyai dua fase pertumbuhan, fase vegetatif hanya mengeluarkan daun saja dan setelah daun layu digantikan dengan fase generatif yaitu munculnya bunga yang berukuran sangat besar (LIPI 2001). Tangkai daun berwarna hijau keputih-putihan dan bertotol-totol agak bundar, dapat mencapai 3,5-6 m. Bunga suweg raksasa merupakan bagian yang terlihat dominan, saat mekar diameternya mencapai 96-106 cm. Disebut bunga bangkai karena pada waktu mekar bunga ini mengeluarkan bau busuk seperti bangkai.

Gambar 6  Suweg raksasa

Suweg raksasa termasuk jenis tumbuhan dilindungi menurut PP No. 7 tahun 1999 dan tercantum dalam IUCN Red List Categories dengan status genting (endangered). Populasi alami jenis ini di alam berkurang secara drastis karena kerusakan habitat tempat hidupnya. Upaya konservasi terhadap tumbuhan ini dilakukan dengan pembinaan terhadap habitat dan pelestarian jenis di kawasan eks-situ. Pembinaan terhadap habitat mencakup kegiatan perlindungan dan pengamanan terhadap keutuhan habitat sehingga ekosistem di dalamnya terjaga dengan baik. Pelestarian di kawasan eks-situ ditujukan untuk membudidayakan tanaman unik ini sehingga tidak punah dan dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

IUCN. 2010. IUCN Red List of Threatened Species. terhubung berkala. www.iucnredlist.org. Diakses tanggal 4 Desember 2010.

 

Lee, R.J., J. Riley, R. Merril. 2001. Keanekaragaman Hayati dan Konservasi di Sulawesi Bagian Utara. Jakarta: WCS-IP dan NRM.

 

LIPI. 2001. Tumbuhan Langka Indonesia. Bogor: LIPI.

 

MacKinnon, J., K. Phillipps,dan B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Bogor: LIPI dan BirdLife IP.

 

Mustari, A.H. 1996. Population of Lowland Anoa (Bubalus depressicornis Smith) in Tanjung Amolengu Wildlife Reserve. Southeast Sulawesi Indonesia.Media Konservasi Vol. V No. (1) April 1996: 1-3

 

PHPA/Birdlife International. 1995. Burung-Burung Terancam Punah di Indonesia. Jakarta: PHPA/Birdlife Internasional.

 

Primack, RB., J. Supriatna, M. Indrawan, P. Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

Profauna. 2004. Panduan Sederhana Pengenalan Jenis Satwaliar yang Sering Diperdagangkan di Pasar Burung di Jawa. Malang: Profauna.

 

Zuhud, E.A.M., N. Hernindiah, A. Hikmat. 1999. Pelestarian Rafflesia hasseltii Suringar di Taman Nasional Bukit Tigapuluh Riau-Jambi. Media Konservasi Vol. VI, No.1, Agustus 1999: 23-26.

 

One Response to “Flora Fauna Langka Indonesia”

  1. carla Says:

    yaaaa..,,bagus jg buat bljr


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.